DP3APPKB Kota Bukittinggi dan Universitas Mohammad Natsir,Stunting?

DP3APPKB Kota Bukittinggi dan Universitas Mohammad Natsir,Stunting?
  • Post:kegiatan
  • Senin, 08 Agu 2022, 08:29:56 WIB 301 View
  • 301 View

DP3APPKB Kota Bukittinggi dan Universitas Mohammad Natsir,Stunting?

KBRN,Bukittinggi: Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Bukittinggi ingin kepedulian pemerintah dengan alokasi anggaran yang sesuai untuk penanganan persoalan stunting.  Diketahui, Pemerintah Kota Bukittinggi mengalokasikan anggaran sebesar Rp 260.732.500 untuk upaya penurunan stunting bagi OPD ini.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Bukittinggi Tati Yasmarni kepada RRI, Rabu (03/08/2022) mengatakan pihaknya menyampaikan langsung kondisi dukungan bagi tim pendamping keluarga yang bersumber dari dana APBD masih nol. Namun, kondisi itu tidak membuat OPD yang dipimpinnya hilang akal untuk mewujudkan inovasi, program Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) menjadi langkah solusinya.

“iya sebenarnya tadi dari materi Kepala Bapelitbang sudah dapat dilihat kalau di Dinas P3APPKB itu ada anggaran 260 juta  tetapi tidak spesifik sebenarnya untuk stunting begitu, makanya saya tadi berani menyampaikan ke Bapak Walikota yang benar – benar untuk stunting itu terutama untuk tim pendamping keluarga itu dari sumber dana APBD itu kita masih nol. Jadi di kesempatan ini saya sudah melaporkan kepada Bapak Walikota dikarenakan kita menggandeng masyarakat kader KB, kader PKK, yang notabenenya adalah masyarakat memang harus kepedulian harus hadir anggaran pemerintah di program ini. Namun, kami di Dinas P3APPKB tidak kehabisan akal dari kegiatan – kegiatan yang beririsan  yang bisa kami dekatkan dengan isu stunting kami lakukan saja KIEnya, kami lakukan saja hal – hal bisa kita yakini menurunkan stunting,”ujarnya

Porsi intervensi untuk program penurunan stunting ini seharusnya jauh lebih besar dari program lainnya,  tindak lanjut bagi anak yang dinyatakan stunting atau rawan stunting dengan peningkatan dan pemenuhan gizinya, produk konsumsi yang lebih baik, bukan semata sesuatu yang dapat dimakan, bahkan jika dapat diupayakan adalah menu konsumsi yang mahal diberikan kepada masyarakat tersebut.

“ya dari ketersediaan anggaran baik APBN maupun APBD kalau kami melihat dari Dinas P3APPKB itu harusnya anggaran intervensi langsung ke anak stunting itu, itu yang lebih besar, seperti yang saya sampaikan tadi kepada ibu hamilnya, kepada remajanya, kapan perlu kita berikan beras atritif kalau saya tidak salah dari Bulog, ya sudah berikan saja  walaupun mahal, kita berikan susu, jelas itu langsung berdampak ke anak stunting, bahwasanya kita perlu data, kita perlu rapat, kita perlu konsolidasi, iya, tetapi menurut kam intervensi, porsi intervensinya ke anak stunting itu sebaiknya jauh lebih besar, mungkin porsinya 60 untuk intervensi untuk anak stunting, dan 40 lah untuk yang lain – lain,”ucapnya

Afridian Wirahadi Ahmad Rektor Universitas Mohammad Natsir menyebutkan pihaknya dari unsur akademisi berperan untuk penguatan program percepatan penurunan stunting, termasuk di Kota Bukittinggi hingga bergabung ke dalam tim.

Program penurunan stunting bukan semata menjadi ranah pemerintah, melainkan sinergi dan kolaborasi berbagai lintas sektoral. Dengan kepemilikan Sumber Daya Manusia (SDM) dan sarana prasarana maka diharapkan muncul inovasi.

“ya, pada prinsipnya kita melihat bahwa stunting ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi memang multi sektor yang menyebabkan terjadinya stunting, dalam rangka percepatan penurunan stunting ini tidak mungkin diselesaikan oleh sektor kesehatan semata, jadi ada di situ terkait infrastruktur, sarana prasarana, jambanisasi, sanitasi, begitu juga ada hubungan dengan pola asuh anak, maka di situ ada dinas – dinas atau pun juga Kementerian Agama, dan lain sebagainya, termasuk juga pola gizi. Nah, tentunya kolaborasi ini tidak hanya di pemerintahan saja tetapi melibatkan juga ibaratnya dalam hal pelaksanaan tentu juga melibatkan Perguruan Tinggi (PT), nah kenapa Perguruan Tinggi yang dilibatkan  tentu Perguruan Tinggi secara konsep dia memiliki, dia punya Sumber Daya Manusia (SDM) baik itu tenaga pengajar, dosennya yang aktif di bidang kegiatan berkaitan dengan kestuntingan, dan juga mahasiswa. Nah, apalagi kita di Universitas Mohammad Natsir, perguruan tinggi yang secara sumber daya kita lengkap, kita program studi gizi, prodi keperawatan, prodi kebidanan, ada farmasi, dan sebagainya. Kita nanti akan lebih banyak berfokus pada data stunting itu sendiri, karena beberapa statemen masyarakat banyak melihat kenapa ada stunting sedangkan kita tidak melihat adanya stunting, berarti permasalahan tentu valid data yang mau kita intervensi juga di sana, apakah memang datanya sudah valid sehingga bisa kita pertanggung jawabkan, sehingga tidak ada keraguan oleh siapa pun yang membaca laporan,”katanya

Disamping validasi data kasus stunting itu, program penurunan stunting  juga dapat disikapi dengan edukasi kepada masyarakat.

“kemudian, terkait dengan Monev, ya bagaimana memang pelaksanaan intervensi – intervensi yang dilakukan oleh berbagai sektor itu memang efektif dan mampu untuk mempercepat terjadi penurunan stunting, selanjutnya tentu ada knowledge manajemen di situ lah kita melakukan edukasi – edukasi kepada masyarakat, dan insha allah kita dari Universitas Mohammad Natsir, selain kita punya dosen, kita berada di bawah Yarsi Sumatera Barat, kita punya 6 rumah sakit milik sendiri, kita berkolaborasi dengan para dokter spesialis di Yarsi untuk percepatan penurunan stunting di Kota Bukittinggi,”imbuhnya

Sementara itu, Pemerintah Kota Bukittinggi merencanakan pada tahun 2023 mendatang akan menambah alokasi anggaran untuk penurunan stunting melalui perbaikan gizi, kegiatan posyandu menjadi  salah satu wujud realisasinya. Walikota Bukittinggi tidak ingin ketika program peningkatan atau perbaikan gizi itu hanya disuguhi konsumsi bubur kacang hijau atau lontong  pada anak dan kepesertaan posyandu, seharusnya produk konsumsi yang memiliki nilai lebih baik dan jarang dikonsumsi masyarakat, terlebih warga kurang mampu.

 

Recommended

prestasi.png
  • Senin, , 08:32:07 WIB
  • 223 View

Selamat Kepada Miftahul Jannah mahasiswa tingkat 3 prodi s1 keperawatan Universitas Mohammad Natsir

Assalamualaikum wr, wb. Alhamdulillah dan selamat kepada  Miftahul Jannah mahasiswa tingkat 3...

Selengkapnya...
WhatsApp_Image_2022-07-04_at_11_20_28.png
  • Selasa, , 13:13:35 WIB
  • 379 View

Penanda Tanganan MOU dan Perjanjian Kerjasama Universitasi Mohammad Natsir Bukittinggi

Assalamualaikum bapak ibu civitas akademika UMNatsir Sebagian bagian dari ikhtiar Universitas Moh...

Selengkapnya...
WhatsApp_Image_2022-05-23_at_12_56_01.png
  • Selasa, , 08:48:59 WIB
  • 282 View

Training dan Lomba Public Speaking Tingkat Nasional

Bismillah.. Assalammu’alaikum.Wr.Wb Dalam rangka Training dan Lomba Public Speaking Tingka...

Selengkapnya...